MASUKAN KATA DI KOTAK BAWAH INI UNTUK MENCARI.. LALU KLIK TOMBOL "SEARCH"

May 25, 2018

Apa Ciri & Tanda Tubuh Terkena Racun?

Baca Artikel Lainnya

Sadar atau tidak, tubuh kita ternyata menyimpan banyak racun. Secara alamiah racun tersebut dibuang melalui proses detoksifikasi seperti buang air kecil dan besar.

Racun dalam tubuh berasal dari banyak faktor, mulai makanan dan minuman, lingkungan, hingga paparan radikal bebas. Meskipun dibuang melalui proses detoksifikasi, keberadaan racun dalam tubuh tetap memiliki dampak buruk bagi kesehatan dan produktivitas. Apalagi, jika proses detoks tersebut tak berjalan maksimal.


Dokter spesialis gizi yang berpraktik di Jakarta, dr Abdullah Firmansyah SpGK menjelaskan, ada sejumlah tanda yang dirasakan ketika tubuh dipenuhi oleh racun atau toksik.

"Tanda-tanda badan penuh racun itu, badan cepat capek, cepat mengantuk, sulit konsentrasi, susah ingat, cepat lupa," kata Firmansyah dalam talkshow di rangkaian acara Ramadhan Soiree Nurtura di Al Jazeerah Signature, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (24/5/2018).

Firmansyah menuturkan, tanda-tanda itu merupakan gejala ringan ketika tubuh mulai banyak menyimpan racun. Tanda-tanda selanjutnya, saluran pencernaan Anda terganggu ketika racun kian menumpuk. "Masalah lain misalnya di saluran cerna, seperti diare. Kemudian kulit, mulai terasa gatal-gatal," tambah dia.

Untuk gejala berat terlihat dari munculnya penyakit kompleks seperti jantung, diabetes, hipertensi atau tekanan darah tinggi hingga stroke.

Mulai mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, jadi salah satu cara memaksimalkan proses detoksifikasi. Caranya antara lain dengan mengurangi porsi makanan olahan, makanan berkarbohidrat, serta menambah konsumsi sayur dan buah-buahan.

Selain itu meningkatkan pasokan vitamin ke tubuh seperti C, E, A, dan B12. Selain menjaga pola makan, disarankan juga untuk rutin aktivitas fisik dan menghindari stres.

Racun adalah suatu zat kimia yang bisa terjadi secara alami atau hasil sintetis dari lingkungan. Terdapat dua jenis racun yang bisa merusak tubuh yaitu endotoksin dan eksotoksin.

Endotoksin adalah racun yang diproduksi di dalam tubuh ketika makanan di pecah di dalam usus besar dan melalui proses metabolisme di dalam sel.

Sedangkan eksotoksin adalah racun yang berasal dari luar tubuh bisa berupa bahan kimia atau mikroba, racun ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan, air atau udara yang tercemar.

Seperti dikutip dari Immuneweb.org, Selasa (8/6/2010) racun-racun yang masuk ke dalam tubuh ini bisa membunuh atau mematikan sel-sel dan sel yang mati ini tidak akan hidup kembali. Karena itu terkadang racun yang masuk bisa mengubah sel-sel dari DNA.

Secara alami tubuh sudah dirancang untuk memproses dan menghilangkan racun. Organ yang berperan dalam hal memproses racun adalah ginjal, hati, usus, kulit dan paru-paru. Racun di dalam tubuh ini akan dikeluarkan melalui urin, feses, keringat dan pernapasan.

Namun terkadang proses tersebut tidak berjalan mulus sehingg racun yang masuk ke dalam tubuh cenderung menumpuk. Efek racun yang ada di tubuh dapat bervariasi sesuai dengan tingkat racun yang ada.

Gejala adanya racun di dalam tubuh dan cara untuk mendetoksifikasinya:


1. Pada sistem pencernaan.
Seseorang yang memiliki kadar racun dalam tubuhnya akan menunjukkan gejala seperti sembelit, wasir, nyeri di daerah perut serta gangguan pencernaan.

2. Ketidakseimbangan kadar hormon.
Beberapa racun ada yang bertindak seperti hormon perempuan estrogen ketika masuk ke dalam tubuh, hal ini akan menyebabkan ketidakseimbangan hormon pada perempuan yang mengarah pada gejala endometriosis dan sindrom premenstruasi. Sedangkan pada laki-laki racun yang masuk dapat menurunkan jumlah sperma.

3. Menyebabkan peradangan.
Racun yang masuk ke dalam tubuh akan dianggap sebagai benda asing sehingga dapat memicu berbagai macam peradangan. Jika seseorang sudah memiliki penyakit seperti asma, jantung atau arthritis, maka racun tersebut akan memperparah kondisinya.

4. Masalah pada kulit.
Kulit merupakan salah satu organ yang berperan dalam pengeluaran racun melalui keringat. Jika racun-racun ini sudah menutupi pori-pori kulit, maka akan timbul reaksi yang menyebabkan berbagai gangguan kulit.

5. Masalah kognitif (kecerdasan).
Racun yang berlebih di dalam tuuh bisa mengakibatkan masalah seperti kehilangan memori, perubahan suasana hati atau tidak bisa berpikir dengan jernih. Selain itu terkadang menyebabkan demensia pada orang muda.

Untuk mencegah bertumpuknya racun di dalam tubuh yang bisa menyebabkan beberapa masalah, maka diperlukan detoksifikasi bahan kimia dari dalam tubuh.

Seperti dikutip dari Buzzle, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk detoksifikasi, yaitu:

Mengonsumsi air yang cukup. Karena air bisa membersihkan sistem tubuh dan menghilangkan racun melalui keringat atau urin serta membuat seseorang tetap terhidrasi.

Mengonsumsi sayur dan buah yang mengandung serat sehingga membantu proses pencernaan dan pengeluaran racun dari dalam tubuh.
Berlatih meditasi atau yoga sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Menghindari konsumsi alkohol, merokok serta minuman berkafein, karena bisa meningkatkan kadar racun di dalam tubuh.
Menambahkan bumbu seperti ketumbar, jinten, kunyit dan biji adas dalam makanan, karena rempah-rempah ini dipercaya bisa berfungsi sebagai agen detoksifikasi dan membersihkan tubuh.

Sering Sakit? Gunakan Momen Puasa untuk Buang Racun dalam Tubuh

 Jika kita kerap jatuh sakit dan memiliki masalah pada kulit, bisa jadi tubuh diselimuti banyak racun.

Bulan Ramadhan ini -selain beribadah, bisa kita manfaatkan sebagai cara alternatif untuk membuang racun yang menumpuk dalam tubuh.

Menurut ahli penyakit dalam, dr. Yongki Warigit DA, SpPD, Mkes, puasa memang mampu meningkatkan proses detoksifikasi alami pada tubuh, termasuk membersihkan kulit.

Inilah yang membuat banyak pakar kesehatan percaya jika puasa memiliki efek yang bagus untuk kesehatan.

"Saat puasa energi yang biasa dipakai untuk mencerna makanan dialihkan untuk hal lain, misalnya untuk meningkatkan daya tahan tubuh," ucapnya.

Yongki juga mengamini jika puasa mampu memperpanjang usia.

Selain untuk meningkatkan daya tahan tubuh, energi yang tak terpakai saat puasa bisa dipakai untuk pembakaran lemak.

Dengan cara ini, otomatis kandungan lemak dalam tubuh menjadi normal dan metabolisme berjalan maksimal.

Inilah yang membuat angka harapan hidup meningkat.

"Lemak yang berlebih dalam tubuh bisa menjadi penyebab datangnya berbagai penyakit, seperti penyakit kardiovaskuler," paparnya.


Menurut Yongki, puasa juga bisa meringankan penyakit asma dan autoimun.

"Ini sudah ada penelitiannya. Pasien asma gejala alerginya bisa membaik dengan puasa," ucapnya.

"Bahkan, pada pasien penyakit autoimun, dia juga bisa mengalami semacam perbaikan," tambahnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar kita tidak 'balas dendam' ketika buka puasa. Mengonsumsi makanan terlalu banyak saat berbuka juga bisa merusak fungsi detoksifikasi tubuh.

"Kadang waktu berbuka, orang sering kali makan apa pun, entah itu es, junk food, gorengan."

"Padahal, itu bisa membuat kerja pencernaan dalam tubuh menjadi berat," papar Yongki.

Kerja pencernaan yang berat inilah, kata Yongki, bisa membuat fungsi detoks yang telah maksimal kembali menurun.

Minum air putih, lanjut Yongki, adalah cara terbaik untuk menahan nafsu makan berlebih ketika waktu berbuka tiba.

"Minum air putih bisa melarutkan kalori dan mengaktifkan enzim-enzim yang membuat metabolisme berjalan dengan baik," paparnya.

Ketika metabolisme berjalan dengan baik, lemak yang tersimpan dalam perut juga dicerna dengan baik.

Inilah yang membuat kita merasa lebih kenyang dan menghambat nafsu makan berlebih.

Selain itu, kita juga harus berbuka dan sahur dengan asupan nutrisi yang seimbang.

Asupan nutrisi seimbang ini meliputi konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, sayur, buah, dan air.

Menurut Yongki, tidak masalah jika makanan yang kita konsumsi mengandung sedikit lemak.

Lantas, satu hal yang penting adalah asupan karbohidrat yang kita konsumsi.

Kabrohidrat terdiri dari dua jenis, yaitu karbohidrat simpleks dan kompleks.

"Karbohidrat simplek itu, misalnya nasi putih. Nasi putih ini sebenarnya kurang baik," ucapnya.

"Jadi, sebaiknya kita mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah dan oatmeal," tambahnya.

Ia memaparkan jika karbohidrat kompleks ini mengandung serat tinggi dan glukosa yang rendah.

"Serat yang tinggi ini membuat kita kenyang lebih lama. Selain itu, kandungan glukosa yang rendah membuat kerja tubuh menjadi ringan," papar dia










references by inews, detik,tribunnews

 
Like us on Facebook