May 5, 2018

Kota Termacet Di Dunia

Baca Artikel Lainnya

Jakarta dinobatkan sebagai peringkat 12 kota termacet di dunia. Peringkat ini naik dari posisi sebelumnya dimana Ibukota kita tercinta ini berada pada peringkat 22 kota termacet di dunia. Melansir riset Inrix Global Traffic Scorecard 2017 Traffic kemacetan Jakarta berdampingan dengan kota Bogota, Mexico, Rio de Janeiro, Bangkok dan Sao Paulo.



Macet memang membawa dampak yang tidak sedikit bagi masyarakat. Beberapa dampak yang timbul akibat macet dapat terlihat pada kebanyakan Anda yang mengalami masalah produktivitas pekerjaan, munculnya penyakit pernapasan, melambungnya tekanan darah akibat stress menghadapi kondisi jalan dan membengkaknya biaya untuk perbaikan kendaraan.

Bahkan jika dilihat secara ekonomi, dampak macet di Jakarta menyisakan angka kerugian berjumlah puluhan triliun rupiah. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), jumlah kerugian akibat macet di Jakarta mencapai Rp 67 triliun per tahun. Angkanya lebih fantastis lagi jika berdasarkan perhitungan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), yakni senilai Rp150 triliun per tahun yang mencakup biaya bahan bakar, biaya kesehatan juga biaya sosial.

Angka yang cukup banyak itu muncul merupakan akibat terhantamnya sendi-sendi ekonomi akibat panjangnya waktu perjalanan yang harus ditempuh masyarakat. Alhasil banyak pertemuan-pertemuan penting yang akhirnya molor, banyak warga terlambat datang ke kantor, kecelakaan dan segudang dampak nyata ekonomi lainnya.

Macet juga dapat memicu munculnya sifat arogansi. Seperti yang terjadi di wilayah Jl Casablanca belum lama ini. Beberapa pengguna jalan menggusur pekerja dari Dinas Pekerjaan Umum (PU)yang tengah mengerjakan perbaikan jalan di pagi hari.

Sejatinya persoalan macet bukan merupakan hal baru bagi masyarakat perkotaan. Namun entah mengapa hal itu belum juga dapat terselesaikan dengan baik. Beragam upaya pemerintah juga sudah dilaksanakan guna mengurai kemacetan yang semakin liar, mulai dari pembangunan tranportasi massal, pembangunan hunian yang terintegrasi dengan kereta api dan rencana penerapan electronic road pricing (ERP).

Ganjil Genap

Setiap hari terdapat 2 juta orang penglaju yang berada di Jakarta. Dengan kondisi tersebut, Pemerintah DKI Jakarta belum lama ini menerapkan kebijakan Ganjil Genap menggantikan peraturan three in one yang sebelumnya berlaku.

Jadi pada jam-jam tertentu di tanggal ganjil seperti tanggal 1,3,5 dan seterusnya hanya kendaraan ganjil yang boleh melintas di jalur utama Jakarta, sedangkan di tanggal genap seperti tanggal 2,4,6 dan seterusnya kendaraan dengan pelat nomor genaplah yang boleh melintas.

Bahkan aturan tersebut oleh pemerintah pusat juga diberlakukan di ruas tol Cikampek dan juga Jagorawi, menyusul juga akan diberlakukan di ruas tol Karawaci. Ditlantas Polda Metro Jaya mengklaim dengan adanya aturan itu mampu menekan tingkat kemacetan hingga 40%.
TOD

Transit Oriented Development (TOD) digadang-gadang dapat menjadi salah satu solusi mengurangi angka kemacetan di Jakarta. Yap, disini beberapa pengembang ditunjuk untuk membangun hunian vertikal yang terintegrasi dengan kereta api.

Dengan begitu diharapkan penggunaan transportasi pribadi semakin berkurang. Saat ini beberapa TOD sudah mulai dibangun dan dipasarkan, diantaranya TOD yang berlokasi di wilayah Stasiun Lenteng Agung, StasiunUniversitas Indonesia, StasiunUniversitas Pancasila dan juga Stasiun Juanda.



ERP
Rencana penggunaan ERP ini sebenarnya sudah sejak beberapa tahun kebelakang digaungkan, bahkan awalnya di jadwalkan masuk masa uji coba pada Juli 2014 lalu. Sekarang, jika tidak ada aral melintang pada 2019 mendatang kebijakan ini diharapkan sudah mulai diterapkan di sejumlah jalan. ERP sendiri merupakan suatu cara untuk mengendalikan kemacetan dimana kendaraan yang masuk pada ruas jalan/lokasi tertentu akan dikenakan tarif.

Pungutan tarif dalam penggunaan fasilitas/infrastruktur bukanlah hal yang baru, sebagaimana anda dikenakan jika masuk jalan tol. Idenya pungutan dari masyarakat akan didedikasikan kepada masyarakat kembali untuk membiayai proyek infrastruktur lainnya, misalnya peningkatan sarana dan prasarana jalan dan transportasi umum.

Selain tiga kebijakan diatas, terdapat juga sejumlah kebijakan yang sudah lama dilakukan seperti pengadaan bus Transjakarta beserta pembangunan jalurnya, pembangunan jalan layang non tol, dan juga proses Pembangunan 6 Ruas Jalan Tol Dalam Kota sepanjang 69,77 kilometer yang diperkirakan bakal menelan dana sekitar Rp40 triliun.

Kendaraan Rawan Rusak

Meskipun pemerintah sudah melakukan beragam upaya untuk menekan kemacetan. Anda juga dapat mempersiapkan diri guna mengurangi dampaknya, maklum selain dampak ekonomi dan juga kesehatan, macet juga membuat kendaraan Anda rawan rusak, apalagi jika tipe transmisi kendaraan yang Anda miliki merupakan kendaraan otomatis.

Kebanyakan pengguna mobil otomatis malas memindahkan transmisi D (Drive) ke N (Netral) pada saat macet atau lampu merah. Padahal hal itu dapat memicu keausan di komponen transmisi. Apalagi jika Anda termasuk dalam orang yang sangat sibuk  sehingga tidak memperhatikan volume oli mesin, berkurangnya oli mesin atau bahkan kebocoran oli mesin dapat memperparah kondisi kendaraan anda.



references by cekaja
photosh by beritasatu

 
Like us on Facebook